Sudah menjadi rahasia umum, lembaran tisu digunakan untuk membersihkan sesuatu. Namun, diluar fungsi formalnya, tak banyak yang tahu kegunaan tisu saat penerbangan berlangsung. Tikpat berhasil mengulik cerita kegunaan tisu, langsung dari mantan pramugari yang kini sukses menjadi pilot.
"Habis kondangan ya! ketemuanya di Cilandak".
Tikpat pun meluncur ke Cilandak, tempat dimana Kapten Nurmala Dewi bersedia sebagian kisah hidupnya "dikuliti". Sang pilot ketika itu tampil dengan baju bernuansa santai bercorak putih, dan rambut disanggul layaknya jambul, khas kondangan.
Tikpat dan Kapten Mala, larut dalam obrolan yang dihibur bulatan donat plus dua poci kopi. Kapten dengan pembawaan supel itu mengatakan pada Tikpat, kalau tisu seringkali digunakan para penumpang untuk menitipkan sesuatu pada pramugari.
"Ada beberapa penumpang yang ngasih kartu nama,ninggalin nomor telpon di tisu,terus kalau mau turun ada yang mau nitip sesuatu, enggak tahunya nomor handphone," paparnya sembari diselingi seruput kopi, belum lama ini.
Mala sendiri tak merinci berapa jumlah tisu yang datang menghampirinya. Kendati begitu, dia tak menampik, dibawah lindungan kabin bumbu-bumbu asmara bisa menyeruak. Namun si pilot memberi penegasan, para pramugari tidak mengungkapkan hal itu secara agresif.
"Yang lucu dan ganteng kita omonginnya di mulut aja dan di belakang. gak mungkin kita samperin terus bilang ‘hai,kenalan dong. Kadang junior ada yang bilang, mbak yang duduk di nomor sekian lucu ya,cuma sekadar itu. Kalau aku,forget it,besok-besok juga ngak ketemu lagi."
Nah, selama mengobrol bareng Tikpat, Kapten Mala rada malas melahap donat yang terkapar di meja. Padahal donat itu ditata sedemikian apik, dan tidak kalah manis dibanding Kapten Malah. Usut punya usut, teman bicara Tikpat ini ternyata pernah melakoni profesi sebagai model. Tentu saja profesi tersebut diarunginya jauh sebelum berhubungan dengan dunia dirgantara.
"Jadi model susahnya rejeki gak nentu. Nah, jadi pilot, mesti hadapin cuaca yang berubah-rubah. Selama jadi pramugari capeknya ngadepin penumpang marah, sebaliknya kita tidak bisa marah," sambungnya sambil senyum.
Bicara soal senyum, gerak bibir tersebut merupakan senjata pamungkas bagi para pramugari. Dan dibalik seutas senyum yang terukir kadangkala dibarengi hembusan nafas peredam emosi.
Dikatakan, pilot kelahiran 26 Oktober 1988 ini, letupan-letupan emosi yang disimpan rapat-rapat oleh pramugari, akan hilang dengan sendirinya saat istirahat. Lagipula tidak setiap hari para pramugari menerima omelan dari penumpang.
Dari cerita tersebut Tikpat pun menyimpulkan kalau profesi pramugari merupakan pekerjaan yang menguras emosi dan fisik. Alhasil batin yang tenang menjadi tumpuan untuk melakoni profesi ini. Disamping itu hiburan kecil diatas pesawat seperti penumpang yang berupaya menarik perhatian pramugari, jelas akan menjadi selipan obrolan srikandi angkasa, seperti tisu yang dibumbui nomor handphone.
"Habis kondangan ya! ketemuanya di Cilandak".
Tikpat pun meluncur ke Cilandak, tempat dimana Kapten Nurmala Dewi bersedia sebagian kisah hidupnya "dikuliti". Sang pilot ketika itu tampil dengan baju bernuansa santai bercorak putih, dan rambut disanggul layaknya jambul, khas kondangan.
Tikpat dan Kapten Mala, larut dalam obrolan yang dihibur bulatan donat plus dua poci kopi. Kapten dengan pembawaan supel itu mengatakan pada Tikpat, kalau tisu seringkali digunakan para penumpang untuk menitipkan sesuatu pada pramugari.
"Ada beberapa penumpang yang ngasih kartu nama,ninggalin nomor telpon di tisu,terus kalau mau turun ada yang mau nitip sesuatu, enggak tahunya nomor handphone," paparnya sembari diselingi seruput kopi, belum lama ini.
Mala sendiri tak merinci berapa jumlah tisu yang datang menghampirinya. Kendati begitu, dia tak menampik, dibawah lindungan kabin bumbu-bumbu asmara bisa menyeruak. Namun si pilot memberi penegasan, para pramugari tidak mengungkapkan hal itu secara agresif.
"Yang lucu dan ganteng kita omonginnya di mulut aja dan di belakang. gak mungkin kita samperin terus bilang ‘hai,kenalan dong. Kadang junior ada yang bilang, mbak yang duduk di nomor sekian lucu ya,cuma sekadar itu. Kalau aku,forget it,besok-besok juga ngak ketemu lagi."
Nah, selama mengobrol bareng Tikpat, Kapten Mala rada malas melahap donat yang terkapar di meja. Padahal donat itu ditata sedemikian apik, dan tidak kalah manis dibanding Kapten Malah. Usut punya usut, teman bicara Tikpat ini ternyata pernah melakoni profesi sebagai model. Tentu saja profesi tersebut diarunginya jauh sebelum berhubungan dengan dunia dirgantara.
"Jadi model susahnya rejeki gak nentu. Nah, jadi pilot, mesti hadapin cuaca yang berubah-rubah. Selama jadi pramugari capeknya ngadepin penumpang marah, sebaliknya kita tidak bisa marah," sambungnya sambil senyum.
Bicara soal senyum, gerak bibir tersebut merupakan senjata pamungkas bagi para pramugari. Dan dibalik seutas senyum yang terukir kadangkala dibarengi hembusan nafas peredam emosi.
Dikatakan, pilot kelahiran 26 Oktober 1988 ini, letupan-letupan emosi yang disimpan rapat-rapat oleh pramugari, akan hilang dengan sendirinya saat istirahat. Lagipula tidak setiap hari para pramugari menerima omelan dari penumpang.
Dari cerita tersebut Tikpat pun menyimpulkan kalau profesi pramugari merupakan pekerjaan yang menguras emosi dan fisik. Alhasil batin yang tenang menjadi tumpuan untuk melakoni profesi ini. Disamping itu hiburan kecil diatas pesawat seperti penumpang yang berupaya menarik perhatian pramugari, jelas akan menjadi selipan obrolan srikandi angkasa, seperti tisu yang dibumbui nomor handphone.


0 Response to "Inilah Kegunaan Tisu di Pesawat Versi Pramugari. Berikut Penjelasannya."
Posting Komentar