Lumut menempel di sela-sela relief yang terukir di Candi Siwa. Warnanya mencolok di antara bebatuan yang kehitam-hitaman. Tumbuhan liar itu membuat candi tak sedap dipandang. Dengan sigap, Slamet mulai menggosok bagian relief yang ditumbuhi lumut dengan sapu lidi.
Tangan Slamet bergerak maju dan mundur, dari kanan ke kiri. Kemudian mengulangi gayanya dari depan ke belakang. Sebagian lidi dari sapu yang dipakai Slamet patah atau terlepas. Rupanya Slamet cukup kuat menggosok lumut-lumut tersebut.
“Kalau musim hujan, ibaratnya satu tahun itu enggak habis-habis lumutnya,” kata Slamet sambil bekerja kepada Liputan6.com di Kompleks Candi Prambanan, Yogyakarta, akhir April 2017. Candi Siwa merupakan bangunan tertinggi di kompleks tersebut.
Pria kelahiran 1963 itu merupakan satu di antara 18 juru pemelihara Candi Prambanan. Tugas mereka merawat kebersihan dan keasrian salah satu candi Hindu tercantik di Indonesia itu. Pembersihannya merupakan tanggung jawab Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Daerah Istimewa Yogyakarta.
Jauh sebelum Slamet dan kawan-kawannya membersihkan Prambanan, cerita menyedihkan pernah menghampiri kompleks candi ini. Kepala Unit Candi Prambanan BPCB DI Yogyakarta, Manggar Sari Ayuati, bercerita, sebelum ditemukan C.A. Lons pada 1733, Candi Prambanan tidak semegah sekarang.
Menurut Manggar Sari Ayuati, dibangun Rakai Pikatan, penguasa Mataram Hindu, pada 850 Masehi dan diresmikan Rakai Kayuwangi pada 856, Prambanan nyaris hilang ketika sebagian bangunannya runtuh. Konon, runtuhnya candi disebabkan letusan Gunung Merapi. "Tapi kita tidak tahu pastinya," kata Manggar.
Dalam laporan yang ditulis Lons untuk VOC terungkap, reruntuhan berserakan di depan bangunan candi. Pada History of Java, Sir Thomas Stamford Raffles juga menyebut keberadaan candi ini. Raffles menulisnya dengan nama Brambanan.
Raffles mengatakan kondisi candi sudah jauh lebih baik daripada saat dirinya mendapat laporan dari Colin MacKenzie, utusannya, pada 1807. Meski demikian, Raffles tak lantas memerintahkan pemugaran tempat pemujaan umat Hindu ini ketika berkuasa di Nusantara pada 1811-1816.
Kondisi ini berlangsung cukup lama. Ketidaktahuan masyarakat dan kurangnya informasi yang didapat pemerintah kolonial bahkan nyaris membuat candi ini lenyap. Lihat, banyak batu candi yang digunakan sebagai bantalan rel saat jalur kereta Yogyakarta-Solo dibangun.
Kondisi diperparah saat rezim kolonial Belanda mendirikan pabrik di sekitar Prambanan. Menurut Daud Aris Tanudirjo dalam buku Candi Prambanan: Perspektif Multidisiplin dan Multistakholder, pengelola pabrik dengan seenaknya memanfaatkan batuan yang sudah terpahat halus menjadi bagian saluran air atau fondasi.
Sebagian batu juga ada yang dijadikan bahan bangunan stasiun dan perumahan warga di sekitar. Ini terungkap saat gempa dahsyat mengguncang Yogyakarta pada 2006. "Jadi memang batu sudah tersebar ke mana-mana," ungkap Manggar.
Tangan Slamet bergerak maju dan mundur, dari kanan ke kiri. Kemudian mengulangi gayanya dari depan ke belakang. Sebagian lidi dari sapu yang dipakai Slamet patah atau terlepas. Rupanya Slamet cukup kuat menggosok lumut-lumut tersebut.
“Kalau musim hujan, ibaratnya satu tahun itu enggak habis-habis lumutnya,” kata Slamet sambil bekerja kepada Liputan6.com di Kompleks Candi Prambanan, Yogyakarta, akhir April 2017. Candi Siwa merupakan bangunan tertinggi di kompleks tersebut.
Pria kelahiran 1963 itu merupakan satu di antara 18 juru pemelihara Candi Prambanan. Tugas mereka merawat kebersihan dan keasrian salah satu candi Hindu tercantik di Indonesia itu. Pembersihannya merupakan tanggung jawab Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Daerah Istimewa Yogyakarta.
Jauh sebelum Slamet dan kawan-kawannya membersihkan Prambanan, cerita menyedihkan pernah menghampiri kompleks candi ini. Kepala Unit Candi Prambanan BPCB DI Yogyakarta, Manggar Sari Ayuati, bercerita, sebelum ditemukan C.A. Lons pada 1733, Candi Prambanan tidak semegah sekarang.
Menurut Manggar Sari Ayuati, dibangun Rakai Pikatan, penguasa Mataram Hindu, pada 850 Masehi dan diresmikan Rakai Kayuwangi pada 856, Prambanan nyaris hilang ketika sebagian bangunannya runtuh. Konon, runtuhnya candi disebabkan letusan Gunung Merapi. "Tapi kita tidak tahu pastinya," kata Manggar.
Dalam laporan yang ditulis Lons untuk VOC terungkap, reruntuhan berserakan di depan bangunan candi. Pada History of Java, Sir Thomas Stamford Raffles juga menyebut keberadaan candi ini. Raffles menulisnya dengan nama Brambanan.
Raffles mengatakan kondisi candi sudah jauh lebih baik daripada saat dirinya mendapat laporan dari Colin MacKenzie, utusannya, pada 1807. Meski demikian, Raffles tak lantas memerintahkan pemugaran tempat pemujaan umat Hindu ini ketika berkuasa di Nusantara pada 1811-1816.
Kondisi ini berlangsung cukup lama. Ketidaktahuan masyarakat dan kurangnya informasi yang didapat pemerintah kolonial bahkan nyaris membuat candi ini lenyap. Lihat, banyak batu candi yang digunakan sebagai bantalan rel saat jalur kereta Yogyakarta-Solo dibangun.
Kondisi diperparah saat rezim kolonial Belanda mendirikan pabrik di sekitar Prambanan. Menurut Daud Aris Tanudirjo dalam buku Candi Prambanan: Perspektif Multidisiplin dan Multistakholder, pengelola pabrik dengan seenaknya memanfaatkan batuan yang sudah terpahat halus menjadi bagian saluran air atau fondasi.
Sebagian batu juga ada yang dijadikan bahan bangunan stasiun dan perumahan warga di sekitar. Ini terungkap saat gempa dahsyat mengguncang Yogyakarta pada 2006. "Jadi memang batu sudah tersebar ke mana-mana," ungkap Manggar.



0 Response to "Intaian Maut dan Tragedi Cinta di Prambanan. Berikut Penjelasannya."
Posting Komentar