Banner iklan disini

Kisah Suparni, Nenek Tangguh Berusia 117 Tahun. Berikut Kronologisnya.

Usia senja tak menjadi kendala bagi Suparni, seorang nenek asal Pedukuhan Sadang, Tanjungharjo, Kecamatan Nanggulan untuk terus beraktivitas layaknya orang biasa. Suparni yang telah berusia satu abad lebih atau 117 tahun ini masih nampak sehat, bahkan penglihatan serta pendengaran dan kondisi fisikSuparni belum mengalami gangguan.


Untuk mengisi hari tuanya, Suparni memiliki beragam kegiatan yang dia lakukan untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah. Mulai dari membuat tali tambang berbahan dasar pandan pasir atau biasa disebut tampar. Suparni juga sering menjual jamu tradisional dan kain selendang keliling desa sekitarnya.

“Kula nggaweni tampar ngeten niki namung kangge samben, biasane awan kula ider sandangan kalian jamu. Bar ider nembe kula ngecrek terus dangune ngleles. (Saya buat tali seperti ini cuman sambilan, biasanya siang saya jualan keliling. Selesai jualan baru mulai memilin tali yang sudah besar(ngecrek) kemudian malem memilin tali untuk ngecrek siangnya(ngleles),” ucap Supartini,

Tali tampar yang sudah jadi kemudian disetorkan kepada tengkulak untuk dibuat menjadi kerajinan tas. Setiap harinya, Suparni bisa membuat tali tampar mencapai 1 kilogram dengan upah Rp 7 ribu per kilogramnya. Setiap kilogram, panjang tali bisa mencapai sekitar 20 meter.

Sebenarnya Suparni tak hidup sendiri, ia hidup berdekatan dengan kedua anaknya, keempat cucu serta enam buyutnya. Namun Suparni lebih memilih tinggal sendiri disamping rumah anak tertuanya di samping tempat menyimpan kayu bakar. Kendati begitu, Suparni mengaku menikmati hal tersebut dan dianggap sebagai hal yang biasa.

Hidup sehat tanpa suatu penyakit di usia yang tak lagi muda, Suparni mengaku tak memiliki resep kusus. Ia hanya rutin mengkonsumsi jamu tradisional yang ia racik. Untuk makanan, Suparni juga tak memilih-milih. Ia biasanya hanya mengkonsumsi sayur-sayuran yang menurutnya lebih mudah dicerna oleh orang tua.

“Kula niku sampun sepuh, sakderenge kula ten Purwprejo, tahun 1945 kula pindah wonten mriki, banjur kula rabi. Sakiniki bojo kula ten Lampung kawit 1965. Kula sakniki mung pingin urip waras. (Saya sudah tua, sebelumnya saya di Purworejo, tahun 1945 pindah ke sini terus menikah. Sekarang suami di Lampung sejak 1965. Saya sekarang hanya ingin hidup sehat,” sambung Suparni.

Kepada para generasi muda, Suparni berpesan agar semangat dalam bejerja selalu menjadi prioritas. Dalam bekerja juga sebaiknya jangan terlalu memaksakan agar kondisi fisik juga tetap terjaga.

“Sing baku kui pikiran kudu tetep waras. Tansah ndongo marang Gusti lan ojo dadi wong sing pekok. (Yang penting pikiran harus tetap sehat. Selalu ingat Tuhan dan jangan jadi orang yang keras kepala dan menyimpang dari aturan," kata dia.

Sementara itu, buyut dari anak pertama Suparni, yakni Firdana Dandy (19) mengaku bahwa sang nenek buyutnya tak pernah membuat kerepotan anak dan cucunya. Suparni justru memberikan semangat agar anak cucunya menjalani hidup dengan sewajarnya saja.

“Kalau simbah memang gitu, dia selalu nggak mau membuat anak cucunya kerepotan. Dulu sempat dibuatkan kamar tapi dia memilih berkativitas di luar. Dia juga nggak pernah sakit parah di usianya yang satu abad lebih,” katanya.

Prinsip hidup Suparni ternyata tak hanya diikuti oleh anak cucunya saja. Tetangga sekitar yang dekat dengan Suparni pun salut dengan semangat dan gaya hidupnya yang sederhana dan narimo ing pandum atau menerima segala pemberian tuhan dalam istilah Jawa.

0 Response to "Kisah Suparni, Nenek Tangguh Berusia 117 Tahun. Berikut Kronologisnya."

Posting Komentar